Sunday, June 19, 2005

The Journey of the Soul: The Story of Hayy bin Yaqzan

Hayy, adalah manusia yang menemukan Tuhan dengan
akalnya. Kisah lengkapnya silahkan lihat The Journey
of the Soul: The Story of Hayy bin Yaqzan (terj. Riad
Kocache), The Octagon Press, London, 1982.

Bayangkan seorang anak manusia hidup sendirian di
sebuah pulau sejak dilahirkan hingga usia lanjut.....

Bayangkan seorang manusia yang tidak pernah bertemu
dengan orang lain sehingga dia tidak mengenal
bahasa......

Bayangkan, dengan segala keterbatasan, dengan
menggunakan akalnya dia berhasil membuka tabir rahasia
alam dengan akalnya, lalu menemukan eksistensi
Tuhan....

Hayy, adalah manusia yang menemukan Tuhan dengan
mengenali alam....

SS

=============================

Tersebutlah sebuah pulau kosong di katulistiwa yang
tanahnya subur, iklimnya sedang, cahaya mataharinya
bisa diterima dengan sempurna. Di pulau itu, ada
seorang anak manusia bernama Hayy.

Seekor rusa yang kehilangan anaknya telah mendapatkan
Hayy. Maka, disusuinya dan diberi makan sehingga bayi
itu bisa tumbuh dengan sehat. Ia membawanya ke dekat
pohon-pohon yang telah masak buahnya. Jika buah itu
keras kulitnya, maka ia pun mengupaskannya. Jika bayi
itu kedinginan, ia pun menyelimutinya dengan
dekapannya.

Begitulah, sampai bayi itu tumbuh menjadi anak dan
remaja, bertindak tanduk dan berujar sebagaimana yang
di lakukan oleh induknya. Dari pengamatan yang
dilakukan terhadap hewan-hewan, ia mulai bisa
mengidentifikasi jenis hewan di pulau itu. Umumnya,
hewan-hewan itu mempunyai alat untuk mempertahankan
diri, baik berupa tanduk, taring, cengkeram dan
sebagainya. Setelah itu, ia lalu melihat dan mengamati
dirinya sendiri.

Ia mendapatinya dalam keadaan telanjang bulat, lemah
dan tidak memiliki alat untuk mempertahankan diri jika
sewaktu-waktu mendapatkan ancaman/serangan hewan buas.
Maka, ia pun mengambil dedaunan dan dirangkainya
menjadi penutup tubuhnya serta sebuah tongkat untuk
mempertahankan diri.

Usia sang induk semakin tua dan akhirnya pun mati.
Melihat kejadian seperti ini, Hayy sangat heran. Ia
mencoba menggerak-gerakkan tubuhnya, tapi tetap tidak
bangun lagi. (Ingat, hayy tidak pernah belajar bahasa
dalam pengertian verbal! Dia tidak mengenal kosakata
untuk menyebut nama benda. Dia hanya memahami fungsi
benda-benda).

Hayy mencoba melihat telinga dan matanya, tetapi tidak
ia temukan tanda-tanda kerusakan. Kemudian, ia beralih
meneliti bagian-bagian tubuh lainnya, tetapi tetap
tidak ia temukan kerusakan. Ia lalu berkesimpulan
bahwa yang rusak tentu anggota badan (organ) bagian
dalam. Hayy ingin tahu. Ia pernah melihat sebuah batu
jatuh lalu mengoyak daging binatang yang ditimpuk.
Dari situ, dia terinspirasi melakukan pembedahan. ia
ingin tahu, apa yang "menggerakkan" binatang.

Pembedahan pun akhirnya ia lakukan dengan lempengan
batu tajam. Ketika membelah jantung, ia mendapati dua
buah lubang di dalamnya. Lubang yang satu berisi darah
yang membeku, dan ia yakin tentu bukan itu sebabnya.
Maka dilihatnya lubang yang kedua, ternyata kosong
sama sekali dan terasa masih panas. Ia berkata dalam
batinnya: "Tentu yang saya cari itu berada di sini
tadinya, tapi sekarang telah pergi. Karena, posisinya
yang strategis (di tengah) ini dan terasa masih
panas".

Ia semakin yakin bahwa tak mungkin tempat semulia itu
tak ditempati oleh sesuatu, dan sesuatu itu telah
pergi yang menyebabkan kematian rusa itu.
Sejak saat itu, ia bertanya terus pada dirinya, apa
gerangan sesuatu itu ? Mengapa ia pergi ? Dari mana
keluarnya ? Apa yang mengikatnya selama ini dengan
jasadnya ?

Hayy berkeyakinan bahwa sesuatu itu bersifat immateri.
Sebab, kalau bersifat materi, tentu keluar/perginya
meninggalkan bekas. Akan tetapi ternyata, tak satupun
ada bekas di tubuhnya yang dilewati benda itu. Ia pun
berkeyakinan benda yang telah pergi itulah hakikat
induknya yang selama ini memeliharanya.

Sejak saat itu pula, Hayy meninggalkan jasad induknya
dan berpaling dari memikirkan hal-hal yang bersifat
materi kepada sesuatu yang immateri. Ditengah-tengah
ia berfikir tentang hal itu, ia melihat api yang
sedang berkobar membakar dedaunan. Ketika
menyentuhnya, terang saja ia kepanasan. Ia heran
dengan rasa panas yang dimiliki oleh api itu. Kontan
lalu ia teringat induknya yang telah mati. Menurutnya,
esensi sesuatu yang hilang dari induknya adalah sama
dengan esensi api itu. Maka, ia mencoba menangkap
seekor rusa yang masih hidup dan dibelahnya seperti
ketika membelah induknya dahulu dan langsung melihat
pada jantungnya.

Ternyata, lubang yang dahulu ia rasakan panas ketika
membelah induknya, sekarang pada rusa yang lain ini,
ia dapatkan rasanya sangat panas, lebih panas dari
lubang pada induknya. "Tentu karena masih baru mati,"
tuturnya dalam hati. Lubang itu dipenuhi dengan asap
panas seperti kabut, dan itulah yang menggerakkan
seluruh organ tubuh hewan itu.

Dari operasi yang kedua itu, Hayy mendapatkan
pengetahuan bahwa semua anggota tubuh bergerak karena
dan atas perintah sesuatu. Sesuatu itulah yang
dinamakan jiwa (soul). Berpencarnya jiwa pada banyak
organ tubuh hanyalah pancaran dari padanya. Kalau jiwa
ini berpancar pada mata, jadilah ia penglihatan. Kalau
pada telinga, pendengaran. Kalau pada kaki, tangan dan
anggota badan lain, jadilah ia potensi yang mampu
menggerakkan anggota tubuh itu. Anggota tubuh bergerak
setelah adanya perintah dari otak melalui saraf yang
menghubungkan antara keduanya. Otak mampu memberikan
perintah karena adanya jiwa yang mengalir dari
jantung. Jadi otak merupakan pusat saraf yang bertugas
membagi jiwa ke seluruh tubuh. Jika jiwa ini keluar
dari jasad, baik sebagian atau keseluruhan, maka
berhentilah fungsi jasad itu, dan itulah yang
dinamakan dengan mati. Hayy memperoleh pengetahuan
tentang mati ini setelah menginjak usia yang ke 21
tahun.

Dari pengamatannya atas jasad dan jiwa rusa itu, Hayy
beralih mengamati jiwa semua binatang, yang akhirnya
berkesimpulan bahwa jiwa-jiwa binatang itu hakikatnya
hanyalah satu. Terpencarnya jiwa pada semua individu
dan jenis hewan itu hanyalah karena terpencarnya
jantung pada semua jenis dan individu hewan.

Lalu, Hayy mengamati jiwa tumbuh-tumbuhan. Ia pun
berkeyakinan bahwa jiwa tumbuh-tumbuhan itu hakikatnya
hanyalah satu. Karena, masing-masing jenis dan
individu tumbuh-tumbuhan memiliki karakteristik yang
sama, mempunyai dahan, daun, ranting, akar dan (untuk
tumbuh-tumbuhan tertentu) memiliki buah.

Hayy lalu membandingkan antara jiwa hewan-hewan dan
jiwa tumbuh-tumbuhan. Kesimpulannya, bahwa antara
keduanya ada persamaan dalam hal makan, tumbuh dan
berkembangdan berkembang biak. Hanya saja, jiwa hewan
mempunyai kelebihan dalam hal gerak dan mengindera.
Meski begitu, jiwa tumbuh-tumbuhan sebenarnya juga
punya potensi bergerak dan mengindera. Karena,
beberapa jenis tumbuh-tumbuhan selalu bergerak ke arah
sinar matahari.

Dengan demikian, hakikat jiwa tumbuh-tumbuhan dan
hewan itu hanya satu. Hayy lalu beralih pada
benda-benda mati. Ia dapati benda-benda itu
bermacam-macam; ada yang cair, padat, uap atau gas.
Ada yang mempunyai warna, ada yang tidak. Ada yang
dingin dan ada yang panas. Ia melihat air menjadi es,
lalu menjadi uap. Uap menyatu dan manjadi awan, lalu
hujan dan menjadi air lagi. Ia melihat benda padat
(pohon) yang terbakar menjadi asap, lalu mengepul
menjadi awan dan hujan (air). Selanjutnya, air
mengairi hutan lalu tumbuhlah pohon lagi, dan demikian
seterusnya. Kalau begitu, sebenarnya benda-benda itu
pun hanyalah satu. Perbedaan benda-benda itu hanyalah
karena perbedaan bentuk saja. Sedangkan materinya,
hanyalah satu. Dari sini, Hayy lalu mengenal materi
dan bentuk yang keduanya saling membutuhkan dan tak
dapat dipisahkan kecuali asal muasalnya materi atau
materi pertama (al-hayula) yang bebas dari bentuk.

Dari pemikirannya tentang materi pertama ini, Hayy
sampai pada pemikiran siapa pencipta materi pertama
dan yang mengubah-ubah materi pertama itu kepada
bentuk-bentuk yang beraneka ragam itu. Tentu,
penciptanya bersifat immateri. Karena kalau juga
bersifat materi, tentu membutuhkan kepada materi yang
lain, dan demikian seterusnya. Pencipta itulah
selanjutnya ia kenal dengan istilah Tuhan. Karena
Tuhan bersifat immateri, maka ia kekal. Hanya yang
bersifat materi itulah yang tidak kekal. Karena,
materi apapun jenisnya akan hancur.

Setelah mangamati benda-benda dan makhluk bumi, Hayy
mengalihkan pandangannya ke langit/angkasa. Ia lihat
matahari, bulan, bintang-bintang dan benda-benda
angkasa lainnya. Dari teraturnya perjalanan matahari,
bulan dan bintang-bintang, ia berkeyakinan, tentu
jagad raya (makro-kosmos) ini saling berkaitan
membentuk satu kesatuan. Dan, bahwa apa saja yang
pernah dilihat sebelumnya berupa air, udara, uap,
tanah, tumbuh-tumbuhan dan hewan serta benda-benda
angkasa merupakan satu kesatuan wujud global yang
integral. Jadi, wujud ini hakikatnya hanyalah satu.

Wujud yang satu ini pun hanya merupakan pancaran dari
wujud yang hakiki, yaitu Tuhan. Jadi maujud ini
merupakan emanasi wujud Tuhan. Hal tersebut ia lalui
setelah berumur 28 tahun.

Semenjak saat itu, setiap ia melihat benda/makhluk,
bukan lagi jasad/materinya yang ia lihat, tapi
penciptanyalah yang tampak olehnya. Setiap saat, ia
selalu ingin mengetahui dan mendekatinya. Karena ia
bersifat immateri, maka tentu untuk mendekatinya Hayy
menggunakan potensi immaterinya (jiwa=soulnya). Ia pun
menyadari bahwa kebahagiaan yang hakiki adalah dengan
pendakian yang terus menerus sampai tercapainya
penyaksian dan bahwa sifat kekal hanya dimiliki oleh
jiwa dalam melihatnya.

Sedangkan materi yang tidak bisa melihatnya berakhir
dengan kehancuran (fana'). Musyahadah inilah yang
selalu didambakan oleh Hayy yang pada tahap
selanjutnya ia seakan telah menyatu dengan-Nya, selalu
memuji-Nya dan meniru sifat-sifat-Nya dengan cara
menjaga perilaku dan perangai yang terpuji, selalu
menjaga kebersihan dirinya, baik yang tampak
(lahiriah) maupun yang tidak tampak (batiniyah), serta
menjauhkan diri dari sifat dan perangai yang tercela.
Ketika itu, ia telah mencapai usia 50 tahun.

---

1 comment:

Anonymous said...

Memang, manusia lebih banyak lupa tentang berbagai nikmat yang telah diberikan Alloh kepadanya. Bahkan belum tentu manusia menyadari bahwa yang dialami dalam setiap denyut aktivitasnya adalah nikmat tiada tara.

Hayy telah menyelipkan pesan yang sungguh agung bagi dunia. Andaikata bahasa memang tidak pernah diciptakan maka tidak akan pernah ada nama-nama suatu benda atau peristiwa. Yang ada hanya bahasa binatang. Tidak akan ada yang namanya universitas, tidak akan ada yang namanya komputer.

Namun sekarang, bahasa telah digunakan untuk berprasangka kepada orang lain. Bahasa telah digunakan untuk mencari alasan perang berdasarkan prasangka. Alloh Maha Tahu sifat manusia, oleh karena itu Alloh menyebutkan secara terang-terangan nikmat diciptakannya berbagai macam bahasa, berbagai macam bangsa, untuk saling mengenal di antara manusia.

Fitrah manusia pada dasarnya gandrung mencari asal usul sesuatu, penyebab sebuah peristiwa. Alloh menciptakan fitrah tersebut untuk membimbing manusia agar selalu berada dalam lindungannya. Bahwa tiada semua peristiwa yang terjadi kecuali berasal dan disebabkan oleh Alloh SWT. Hanya tingkat keyakinan manusia yang menentukan kedekatannya dengan Sang Kuasa. Keyakinan manusia tidak dapat ditingkatkan selain dengan membaca dan menelusuri penyebab sebuah peristiwa.

Wallahualam.